Seakan-akan tak menghiraukan kegaduhan diluar kamarku, aku harus larut dalam kegiatan membaca komik kesukaanku. Tanpa memusingkan isak tangis dan suara gaduh itu. Ini bukan hal yang biasa lagi bagi aku,tapi ini hanya adegan lama yang terus berulang penayangannya. Bahkan ending dari adegan ini telah ku hafal diluar kepala. Saking hafalnya aku dengan adegan mengharukan ini,aku tak peduli lagi dengan semua itu. Aku muak dan aku benci dengan tokoh pria dalam adegan itu yang tak lain adalah ayahku sendiri.
Setiap harinya rumah ini penuh dengan argumentasi-argumentasi konyol yang tak akan dimengerti oleh orang lain kecuali ayah dan bundaku. Dan ketika argumentasi itu tak diterima bunda,tangan ayah bereaksi,terbang kekanan dan kekiri,tanpa sedikitpun merasa iba dengan perempuan yang telah memberikan ia seorang putrid. Tangannya terus saja berkata tanpa rasa kasihan walaupun cairan merah sedikit demi sedikit mulai terlihat disela-sela bibir bunda,dan semua itu hanya akan berakhir saat bunda hanya mampu berkata dalam tangis.
Tak jarang dirikupun sering diperlakukan sama halnya bunda oleh orang yan gkusebut ayah itu. Jadi,tak heran kalau dihati ini penuh dengan rasa benci kepadanya. Ras benci itu dari hari kehari semakin berakar kuat dihatiku,perlahan-lahan ikut mengalur bersama sel darah merah dalam tubuhku,bahkan dihembusan da tarikan nafaspun rasa benci itu ada,dan puncak rasa benci itu kurasakan saat ayah meninggalkan rumah dan pergi dengan wanita lain. Tak ada air mataku yang mengantar kepergian ayahdari rumah,hanya air mata dan teriakan bunda yang tak ingin ayah pergi. Ku hanya bias memluk bunda yang bercucuran air mata dengan rasa benci yang membabi buta dihatiku.
********
Sudah tiga bulan ayah pergi,itu berarti sudah tiga bulan pula tak ada penayangan film mengharukan itu lagi,dan aku tak sedikutpun merindukan sosok pria itu. Lain halnya dengan bunda,sering kali dia tanpa sadar menangis,tertawa,bahkan berteriak histeris dan diam tanpa kata saat dirinya capek dengan aksinya tadi. Sering ku menangis dipangkuannya tapi dia seakan tak melihatku apalagi merasakannya. Bunda bagai manusia tanpa nyawa,bagai mayat hidup yang hanya bisa tertawa,menangis,histeris,bahkan untuk makanpun ia tak mampu.
Aku tumbuh sendiri tanpa didikan dan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Aku menyayangi mereka tapi mereka kadang tak menganggapku ada. Aku berjuang untuk melupakan kesedihan dan kebencian itu sendiri,sedangkan bunda masih terus saja hidup dalam bayang-bayang air mata dari ayah. Hingga saat kejadian yang tak pernah kubayangkan itu terjadi. Bunda pergi dalam keadaan tanpa sadar,terkubur dalam air dikamar mandi miliknya. Semua terjadi tanpa ku prediksi. Bunda nekat melakukan semua itu tanpa memikirkan diriku,dia memilih jalannya sendiri tanpa mempedulikan aku.
Aku hanya bias manangis mendapati orang yang ku sanjung berbaring tak bernyawa. Tak ada yang mampu ku lakukan selain menangis dan memaki hina ayahku yang ku anggap sebagai penyeab peristiwa ini. Dendam mulai berdetak seiring dengan detakkan jantung,benci mulai masuk dengan aliran nadi tubuhku dan marah mulai merasuki sukmaku. Semua bercampur dengan rasa sedih karena kehilangan bunda untuk selamanya. Tak ada yang mampu ku lakukan selain mengiklaskan dirinya dan menaruh dendam pada ayahku. Bahkan permintaan bunda beberapa hari sebelum kejadian ini, agar aku tak benci dan dendam terhadap ayah tak mampu membuatkku tunduk. “ maafkan aku bunda,karena aku tak bias untuk tidak membenci dirinya”.
********
“Nusakambangan………”
“ Iyah,apa ada yang salah?”
“ Tidak, tapi kenapa harus kesana?”
“ Ayolah Dinda,kamu jangan kaget seperti itu. Kita kesana untuk merampungkan tugas kita,jadi tak ada alasan untuk kamu tak ikut pergi dengan ku kesana”.
Mau tak mau aku harus ikut kesana dengan Wulan untuk menyelesaikan tugas dari pak Santoso beberapa waktu lalu. Tak ada perasaan takut atau aneh sata Wulan menyebut nama Nusakambangan. Semua terasa biasa saja sampai aku berada disana,dipulau yang dianggap keramat oleh sebagian rakyat Indonesia,karena disanalah para penjahat dikumpul,dipulau terpencil bernama Nusakambangan. Bahkan ketika aku dan Wulan sampai,tanpa istirahat Wulan langsung mengajakku ketempat yang menjadi tujuan kami.
Aku berjalan mengikuti Wulan,berjalan diantara ruang berpagar besi,yang didalamnya tinggal beberapa orang dengan tingkat kriminalitas yang berbeda. Entah kenapa perasaan tak menentu menyelimuti hati dan pikiran ini saat aku memasuki ruangan berjeruji besi ini. Wulan tak menyadari perubahan wajah dan sikapku karena dia sudah larut dalam agenda tugas untuk mewawancarai sipir rumah tahanan ini. Berusaha untuk mengejar ketinggalan,aku mencoba melangkah lebih cepat lagi. Sampai tiba-tiba langkah kakiku terhenti didepan sebuah ruangan dengan sosok tubuh yang ku kenal dibalik jeruji ruangan itu.
“ Dasar perempuan tak tau diuntung!”
Plak ! plak ! Plak!
“ Aaa…..aaampun….nnn……..aaa….ayah…..”
Kejadian itu,kata-kata itu seperti suara yang dikirim dari langit untukku. Seakan menikan kembali dadaku,ketika kusaksikan sebuah belati raksasa tertancap tegak disebuah karang besar. Belati itu seakan merobek dadaku. Membuka kembali luka lama yang terasa lebih perih,tertabur garam,tertumpahi cuka,dan bercampur dengan bubuk merica.
Sosok itu membuatku samar-samar mengingatkembali dirinya dua belas tahun yang lalu. Mengingatkanku aan seorang yang telah menyiramkan air raksa dalam hatiku,sesorang yang kuanggap penyebab kepergian bunda untuk selamanya dan seorang yang ku maksud itu tak lain adalah ayahku. Dia dikurung dibalik jeruji besi dengan ruangan yang gelap,berbaju biru bertuliskan narapidana. Apakah yang terjadi dengannya? Dia tak seperti ayah yang kukenal dulu,yang rapi,berkulit putih dan bersih,dengan jas dan dasi,dengan perut gendutnya,dengan rambut yang selalu disisir rapi. Dia benar-benar berbada 1800,kini dia begitu kurus,terlihat kusam dan kotor,bahkan kulitnya menghitam.
Air mataku jatuh ketika melihat dia begitu berbeda,dengan perlahan aku mendenkatinya. Tak satu katapun terucap dari bibirku higga Wulan datang dan menjelaskan siapa orang yang dulu kupanggil ayah itu. Dia adalah narapidana kasus pembunuhan istri mudanya dan narapidana kasus korupsi. Mendengar penjelasan Wulan batinku semakin menjerit,air mata tak hentinya jatuh dari pelupuk mata. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Dengan perlahan dia menggemgam erat tanganku,mencium punggung tanganku,sambil tak henti-hentinya meminta maaf. Dia menangis lebih hebat dari tangisanku,sambil terus mencium punggung tanganku seraya terus berkata maaf.
Hatiku luluh melihat tingkah ayah yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Dendam yang dulu berada sama dengan detakan jantung ini tiba-tiba berubah mejadi rasa rindu yang tak terbendung,benci mulai berganti sayang,dan marah berganti rasa cinta. Bagai salju yang tiba-tiba turun disaat musim kemarau,rasa rindu,sayang,dan cinta juga merasuki tubuhku. Musim kemarau dengan rasa dendam,benci dan marah tiba-tiba berubah menjadi musim salju yang dipenuhi rasa rindu,sayang,dan cinta. Tak ada lagi alas an diriku untuk membenci dirinya karena kini dia merasakan balasan atas perbuatannya terhadap bunda dan aku. Rasa benci,marah,dan dendam yan dulu ada tak layak lagi rasanya untuk ku pelihara setelah kusaksika semua ini.
Air mata masih memenuhi wajahku dan wajahnya,ku tak mempehatikan Wulan bahkan sipir yang sadari tadi berdiri disampingku. Ku lepas perlahan genggaman tangan ayah,dan secara perlahan ku sentuh wajahnya dan menghapus linangan air mata ketidak berdayaan dipipinya sambil terus memegangi wajahnya,aku coba merangkai kata yang mengisyaratkan kata hatiku,bahwa aku sudah memaafkannya. Dengan suara yang terbata-bata aku mengatakan bahwa “ aku memaafkan ayah”. Mendengar ucapanku,perlahan-lahan ayah tersenyum dalam tangisnya. Aku bagai terbang menembul langit ketika ku lihat senyum ayah yang tak pernah ku lihat dua belas tahuh silam.
Aku telah memenuhi permintaan bunda dengan memaafkan ayah. Ku merasakan kehadiran bunda saat itu,dia tersenyum kepadaku,terus tersenyum……..terus….. dan terus hingga tak kurasa lagi kehadirannya.
Di luar selimut matahari yang panas melingkup bumi,burung-burung tersenyum genit ditemani tarian angin yang gemulai,seakan ikut merasakan perasaan hatiku saat ini. Semua bahagia,begitu juga dengan diriku dan ayah. ^_^
SELESAI
By: Tanto Nugroho ^_^
0 komentar:
Posting Komentar